Menakar Marwah Pendidikan di Antara Target Efisiensi dan Daya Saing Global. Oleh Dr. Sumarlin Adam, M.Pd
Menakar Marwah Pendidikan di Antara Target Efisiensi dan Daya Saing Global. Oleh Dr. Sumarlin Adam, M.Pd
1777693827538
Sab, 2 Mei 2026 5:49
Opini

Setiap tanggal 2 Mei, kita tidak sekadar merayakan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, sang Bapak Pendidikan Nasional. Kita sedang melakukan audit moral dan intelektual atas sejauh mana bangsa ini telah “merdeka” dalam belajar. Namun, Hardiknas tahun ini terasa berbeda. Kita berdiri di persimpangan jalan yang paradoksal: di satu sisi kita dituntut melakukan efisiensi besar-besaran di segala lini, namun di sisi lain, kita dipaksa berlari kencang demi mengejar ketertinggalan daya saing di kancah global.

Narasi efisiensi kini menjadi “mantra” baru dalam kebijakan pendidikan. Digitalisasi sekolah, penyusunan kurikulum berbasis platform, hingga otomatisasi penilaian administratif guru sering kali dibungkus dengan label modernisasi. Tentu, efisiensi itu perlu. Di tengah keterbatasan anggaran, kita harus memastikan setiap rupiah yang keluar berdampak pada kualitas belajar siswa.

Namun, kita harus waspada. Jangan sampai efisiensi berubah menjadi “dehumanisasi.” Pendidikan bukanlah lini produksi pabrik yang bisa diukur semata-mata dari kecepatan input dan output. Ketika interaksi antara guru dan murid direduksi hanya menjadi sekadar klik-klak di layar gawai demi memangkas biaya operasional, ada roh pendidikan yang hilang. Pendidikan karakter—yang menjadi inti dari ajaran Tut Wuri Handayani—membutuhkan kehadiran, empati, dan waktu yang tidak bisa “diepisiensikan” oleh algoritma mana pun.

Di sisi lain, tuntutan daya saing global menuntut kita untuk tidak lagi “jago kandang.” Skor PISA dan peringkat universitas dunia menjadi cermin yang sering kali pahit untuk dilihat. Namun, tantangan global hari ini bukan lagi sekadar soal mampu berbahasa asing atau mahir menggunakan teknologi.

Pendidikan yang unggul di mata dunia adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia dengan Growth Mindset—mereka yang tidak gentar pada ketidakpastian. Daya saing global lahir dari ruang kelas yang memerdekakan pikiran, yang membiarkan siswa bertanya “mengapa” dan bukan sekadar menghafal “apa.” Kita membutuhkan lulusan yang memiliki literasi masa depan: mampu memecahkan masalah kompleks, memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, dan tetap membumi dengan kearifan lokal (kearifan lokal sebagai global branding kita).

Bagaimana menyatukan dua kutub ini? Jawabannya adalah Efisiensi yang Strategis. Kita harus berhenti membuang energi pada birokrasi pendidikan yang berbelit-belit. Efisiensi seharusnya dilakukan pada beban administratif guru agar mereka memiliki lebih banyak waktu untuk berinovasi dan mendampingi siswa.

Teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) jangan dipandang sebagai alat untuk memangkas jumlah pengajar, melainkan sebagai asisten untuk mempersonalisasi pembelajaran. Inilah efisiensi yang cerdas: menggunakan alat yang tepat untuk mencapai hasil yang lebih bermartabat.

Hardiknas 2026 harus menjadi momentum bagi kita untuk menegaskan kembali bahwa tujuan akhir pendidikan adalah memanusiakan manusia secara utuh. Unggul secara global bukan berarti kehilangan jati diri nasional, dan efisien secara sistem bukan berarti kikir dalam memanusiakan proses belajar.

Mari kita pastikan bahwa di tengah gemuruh teknologi dan tuntutan pasar kerja dunia, wajah pendidikan kita tetap memiliki “hati”. Karena pada akhirnya, daya saing sejati sebuah bangsa tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kedalaman berpikir dan keluhuran budi pekerti warga negaranya.

Komentar

Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Artikel Lainnya

IAIN Sultan Amai Gorontalo Perkuat Tata Kelola Unggul Lewat Pembinaan ASN
Jum, 24 April 2026 | 1:15
Dosen FUD IAIN Gorontalo Raih Doktor di UIN Alauddin: Bedah Strategi Halal UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Regional
Kam, 23 April 2026 | 10:23
Wujudkan Budaya Mutu, Prodi IQT IAIN Sultan Amai Gorontalo Jalani Asesmen Lapangan BAN-PT
Rab, 22 April 2026 | 6:33
Lantik Pengurus Ormawa, Dekan FUD Mandatkan Akselerasi Prestasi Mahasiswa untuk Akreditasi Unggul
Rab, 15 April 2026 | 10:17